Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, tahun ini merupakan perayaan yang ke -71. Setiap kita merayakan hari ulang tahun kemerdekaan pastilah kita sejenak mengenang kilas balik dari perjuangan para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai wilayah Negara Kesatuan Repblik Indonesia, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak terlepas dari arus sejarah nusantara dan dunia. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdapat beberapa tempat yang mempunyai nilai sejarah dalam upaya mencapai kemerdekaan. Adapun tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah perjuangan yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebagai berikut :
1. Pesanggrahan Menumbing di Kabupaten Bangka Barat
Pesanggrahan Bung Karno Bukit Menumbing, Saksi Sejarah yang Terlantar .Pesanggrahan Bung Karno Bukit Menumbing atau yang sering disebut sebagai Wisma Ranggam merupakan tempat pengasingan mantan Presiden Soekarno ketika terjadi Agresi Milter Belanda tahun 1949. Lokasi pengasingan ini tepatnya terletak di puncak Gunung Menumbing, Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Tempat ini juga dinamakan Jati Wisata.
Di bangunan berupa rumah tua inilah dahulu Ir. Soekarno diasingkan sekaligus menjadi tempat peristirahatannya. Ruangan di dalam rumah masih utuh seperti sebelumnya. Di ruang kerja Bung Karno, pengunjung dapat melihat surat-surat Bung Karno dan Bung Hatta serta foto para pemimpin bangsa yang pernah diasingkan disana. Terdapat juga tulisan-tulisan tentang pembangunan di Bangka saat itu. Di dalam bangunan pengunjung dapat menjumpai mobil Ford Deluxe 8 dengan nomor BN 10 yang pernah dikendarai Bung Karno dulu. Meski yang bisa dilihat hanya rangka mobil saja karena mesin mobil telah hilang entah kemana.
Tidak jauh dari pesangrahan terdapat Monumen Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Monumen ini sendiri sebenarnya masih baru karena diresmikan tahun 2000 yang lalu. Di puncak monument terdapat burung Garuda lengkap dengan kelima silanya sebagai perisai. Serta patung Bung Karno dan Bung Hatta yang menghadap ke Selat Bangka.
2. Wisma Ranggam di Kabupaten Bangka Barat
Pesanggrahan atau dikenal juga sebagai wisma Ranggam terletak di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Bangunan ini merupakan salah satu saksi bisu dimana para tokoh proklamasi pernah mengalami masa-masa sulit di Pulau Bangka. Pesanggrahan ini dibangun oleh Belanda dan pertama kali digunakan untuk mengasingkan Pangeran Pakuningprang pada tahun 1897. Beberapa tokoh proklamasi yang pernah diasingkan di Pesanggrahan Ranggam ini diantaranya adalah Bung Karno, Mr. Moch Roem, H. Agus Salim, dan Mr. Ali Sastroamidjojo.
Tempat ini dipilih oleh Bung Karno karena beliau tidak tahan dengan udara dingin di Pesanggrahan Menumbing. Meskipun rutinitasnya lebih banyak dilakukan di Menumbing, namun Bung Karno selalu kembali ke Ranggam untuk beristirahat.
Setelah tidak digunakan sebagai lokasi pengasingan, pesanggrahan ini dikelola oleh PT. Timah dan digunakan sebagai mess karyawan. Pada tahun 1950, dibangun sebuah tugu di depan Pesanggrahan untuk mengenang bahwa lokasi ini pernah digunakan sebagai tempat pengasingan para tokoh proklamasi Indonesia. Satu hal yang sangat disayangkan menurut penjelasan sang juru kunci adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap bangunan bersejarah ini. Selain tidak adanya keseriusan dari pemerintah untuk menjaganya, kurangnya kesadaran masyarakat juga menyebabkan prasasti peresmian tugu yang seharusnya melekat di bangunan tugu saat ini sudah hilang.
3. Mercusuar Tanjung Kalian Kabupaten Bangka Barat
Mercusuar yang berdiri tegar dan kokoh di Tanjung Kalian adalah sebuah sarana penyelamat lalu lintas kapal yang di bangun oleh Belanda pada tahun 1862. Pantai ini terletak kurang lebih sekitar 9 km dari Kota Muntok, dari kota Mentok ke ibukota Pangkalpinang bandara 138 KM disini terdapat menara atau mercusuar yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1862. Mercusuar ini memiliki ketinggian lebih kurang 65 m dan terdiri dari 16 pantai. Dari puncak menara, keindahan se keliling dapat terlihat. Ke arah barat, tampak Pantai Tanjung Kalian dengan pasir yang putih sepanjang lebih kurang 5 km. Ke sebelah timur, tampak pelabuhan tua kota Muntok. Di waktu malam, sinar lampu mercusuar ini dapat terlihat dengan jelas dengan radius 5 km dari arah laut, sebagai markas jalur kapal-kapal yang melintas. Mercusuar ini tegak menjulang kokoh dan memiliki 117 tangga batu yang berbentuk melingkar ddalamnya terdapat Perangkat lampu membuat ruangan terasa sempit. Menurut penjaga Suar, kap lampu yang terbuat dari gelas tebal itu masih asli. Lampu ini punya kekuatan sorot sampai 40 mil jauhnya, dengan kekuatan 1.000 watt. Setiap kali dinyalakan membutuhkan 20 liter solar, yang membuatnya bisa bertahan 12 jam, dari dalam kita bisa melihat ketinggian kita, dengan menyaksikan pohon-pohon kelapa yang jauh dibawah. Di pantai Tanjung Kalian juga terlihat sisa bangkai kapal bekas Perang Dunia II. Pengunjung bisa mandi, berenang serta bermain air laut dan pasir di sepanjang pantai yang cukup bersih.
Dari jendela tersebut aktivitas bakal dermaga penyeberangan Muntok-Palembang, yang tengah dibangun tidak jauh dari mercusuar, jelas terlihat. Dermaga Tanjung Kelian akan menggantikan Pelabuhan Muntok sebagai tempat kedatangan dan pemberangkatan feri penyeberangan. Berdiri di depan jendela itu selama beberapa menit membuat paru-paru dipenuhi udara sejuk yang melegakan.
4. Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang
Sejak menjadi ibukota Keresidenan Bangka dengan Residen pertama A.J.N. Engelenberg (tahun 1913-1918) Pangkalpinang mulai tumbuh dan berkembang menjadi kota yang ramai dengan segala aktifitasnya. untuk menjalankan roda administrasi pemerintahan di Pangkalpinang sejak tahun 1913 Residen Belanda mulai menempati rumah Residen (Rumah Dinas Walikota Sekarang) yang sebelumnya ditempati oleh Controleur RJ Koppenol. Rumah Residen sering disebut orang Pangkalpinang dengan Rumah Besar, karena rumahnya besar dan kokoh terdiri atas 2 kamar utama, 4 Paviliun, Poyer, Ruang Tamu dan 2 ruang makan, beberapa ruang tidur kecil serta dapur, memiliki beranda yang luas dengan 10 (sepuluh) pilar yang besar dan kokoh. Rumah ini terletak di Jalan Merdeka No. 1 atau merupakan titik Nol Pulau Bangka. Rumah di bangun di atas lahan seluas 7656,25 M2 yang dikelilingi oleh Pohon Pinang Raja. Di halaman depan rumah terdapat Meriam meriam kuno yang terbuat dari besi dan perunggu. Dua meriam dari tipe sundut itu berukuran panjang 128,5 cm, diameter pangkal 42 cm dan diameter ujung 16 cm. Sedang kedua dudukan meriam memiliki ukuran panjang 132,5 cm dan tinggi 63 cm. Pada bagian ujung meriam tertulis angka tahun 1840, sedangkan pada kedudukan meriam terdapat angka tahun 1857 serta tulisan AGW. Masing-masing meriam memiliki mulut berdiameter 7,5 cm yang menandakan ukuran kalibernya. Baik meriam maupun kedudukannya seluruhnya dicat hitam. Kedudukan astronomisnya adalah 020 71’ 210” LS dan 1060 06’ 761” BT. Disamping itu terdapat lagi dua meriam lainnya yang terpasang di muka Kantor Polisi Resort Pangkalpinang di jalan Jenderal Sudirman, sekitar 50 m dari rumah dinas Walikota Pangkalpinang, dua meriam ini juga terbuat dari besi. Ukuran panjangnya 210 cm dan 225 cm, diameter pangkal 40 cm, diameter pucuk 25 cm dan diameter lubang menyulut 11 cm. Pada ujung meriam ditulis tahun pembuatannya, yaitu tahun 1854. Dua meriam ini termasuk jenis meriam sundut yang biasanya memiliki peluru berbentuk bulat dan dimasukkan melalui bagian mulut. Sayangnya tidak jelas secara pasti siapa yang meletakkan meriam dan kapan meriam meriam tersebut diletakkan di dua tempat di atas, dari empat meriam ini semakin jelaslah bahwa Pangkalpinang merupakan pusat pertahanan dan kekuatan militer Belanda sejak tahun 1819 dan rumah yang dijadikan sebagai rumah Residen Belanda telah dibangun sebelum tahun 1913 walaupun masih berbentuk panggung terbuat dari dinding papan dan beratap sirap. Rumah ini disamping dijadikan sebagai rumah kediaman Residen juga dijadikan sebagai tempat kegiatan kemasyarakatan dan ini berlanjut hingga sekarang.
Disamping rumah Residen Gedung pertemuan (Panti Wangka Sekarang), Kantor Polisi (Opas) dan sarana sarana lainnya seperti alun alun (Lapangan Merdeka), Jalan–jalan raya, Rumah rumah untuk Karyawan BTW dan dibangun pula taman Wilhemina (sekarang Tamansari), dengan arsitek Van Ben Benzehorn. Taman ini berfungsi sebagai tempat untuk olahraga, kesenian serta konservasi karena banyak ditanami dengan pepohonan langka yang rindang, sangat cocok untuk olahraga dan rekreasi keluarga dan berangin angin (Zich Onspannen). (Bahan : dari berbagai Sumber)




