IBU RUMAH TANGGA SEKALIGUS WANITA KARIR

Adanya tuntutan biaya hidup yang tinggi, di zaman sekarang ini, semakin banyak wanita memilih untuk bekerja dengan tujuan menambah penghasilan di luar penghasilan bulanan yang diberikan oleh suaminya. Namun demikian, masih banyak terdapat pro dan kontra mengenai wanita bekerja di luar rumah atau yang populer disebut wanita karir .

Banyak wanita di kota besar menunjukkan eksistensi dirinya melalui karir profesional. Pendapatan pribadi yang diterima setiap bulan merupakan bentuk kebanggaan sekaligus identitas sebagai individu yang mandiri. Namun hal ini sering berbenturan dengan peran lain ketika wanita terikat dalam institusi pernikahan. Kewajiban pun berlipat ganda. Terlebih jika sudah memiliki keturunan. Tak sedikit dari mereka  mengaku mengalami dilema ketika dihadapkan kepada dua pilihan besar, yakni mengabdi sebagai istri dan ibu rumah tangga, atau tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Alasan paling utama saat seorang wanita akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja diantaranya adalah jumlah anak. Semakin banyak anak, biasanya kemungkinan si ibu berhenti bekerja menjadi semakin besar. Alasan lain adalah tidak ada pengasuh atau orang yang bisa dimintai tolong untuk mengasuh si anak. Selain itu juga permintaan suami, dan dukungan keuangan yang cukup, yaitu dari pihak suami.

Dihadapkan pada dua pilihan besar memang hal yang sulit. Terlebih ketika kedua pilihan tersebut dirasakan sama-sama signifikan, baik untuk Anda, maupun masa depan keluarga. Pada dasarnya, masing-masing pilihan tentu memiliki kekurangan dan kelebihan yang member pengaruh yang berbeda pada setiap kasus . Semua kembali kepada situasi dan kondisi masing-masing pihak maupun rumah tangga yang sedang dijalani. Namun yang perlu diingat, kedua pilihan ini sama-sama memiliki keuntungan.

Bagaimana Islam memandang hal ini?

Islam mengatur semua hal, bahkan hal kecil sekalipun, apalagi soal harkat dan martabat wanita. Dalam Islam, wanita sangat dimuliakan.

Islam menempatkan kedudukan wanita pada posisi yang layak, memberikan hak-haknya dengan sempurna tanpa dikurangi sedikitpun. Islam memuliakan kedudukan kaum wanita, baik sebagai ibu, sebagai anak atau saudara perempuan, juga sebagai istri.

Islam adalah agama yang sempurna yang tidak mengungkung para wanita dan sama sekali tidak membolehkannya keluar rumah. Adakalanya wanita dibutuhkan kehadirannya di luar. Atau mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang harus didapat dengan cara keluar dari rumahnya.

Jika wanita mesti keluar rumah untuk bekerja, maka hal-hal berikut yang mesti diperhatikan, misalnya mendapatkan izin dari suaminya, aman dari fitnah, yaitu mereka terjaga agamanya, kehormatannya, serta kesucian dirinya.

Berkaitan dengan pembahasan mengenai Ibu bekerja, Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah mengusulkan pengurangan jam kerja bagi pekerja wanita. Usulan ini muncul karena kekhawatiran beliau terhadap masa depan generasi bangsa. Jam kerja PNS wanita dikurangi 2 jam bagi yang mempunyai anak kecil usia 0 sampai dengan 7 tahun agar setiap ibu dapat membesarkan anaknya dengan maksimal. Ibu juga dapat memberikan perhatiannya terhadap keluarga. Menurut belaiu, periode lima atau enam tahun pertama sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Di situlah seorang ibu diharapkan bisa berperan lebih banyak dalam mendidik anaknya.  Namun, beliau  menegaskan jika aturan tersebut masih akan dimatangkan agar teknis pelaksanaannya tidak mengganggu operasional layanan kepada masyarakat.

Kebijakan pengurangan jam kerja tersebut baru ditujukan untuk PNS wanita saja dan hanya akan diberlakukan untuk PNS bukan pegawai swasta. Kebijakan tersebut pun menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Dari pihak PNS perempuan, kebijakan ini diibaratkan seperti angin segar dalam kehidupan mereka.

Keputusan menjadi ibu rumah tangga yang bekerja seringkali mendapat kritikan. Dianggap menelantarkan anak, mengabaikan suami, hingga lalai pada tugas-tugas di rumah.

Padahal, ibu yang bekerja justru punya banyak efek positif, baik bagi diri mereka sendiri, keluarga, dan tumbuh kembang anak lho! Nah, di artikel ini saya akan memaparkan fakta-fakta penelitian yang bisa meyakinkanmu bahwa kelak tidak ada salahnya bekerja sambil mengurus rumah tangga.

  1. Ibu yang bekerja adalah panutan yang baik bagi anak-anak, bahwa perempuan tidak selalu berada di posisi yang inferior.

Ibu yang bekerja adalah contoh baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Anak perempuan akan mengerti bahwa perempuan juga layak mengejar karir, bukan sekadar menikah lalu punya anak. Sementara, anak laki-laki akan memahami bahwa tugas-tugas rumah tangga bukan semata-mata tanggung jawab perempuan, tapi seluruh anggota keluarga.

      2. Dengan bekerja, kelak anak-anakmu akan terdidik untuk menjadi lebih mandiri

Tanpa ibu di rumah, anak-anak justru bisa jadi lebih bertanggung jawab pada diri mereka sendiri. Makan tepat waktu, mengerjakan PR, belajar, bermain, tidur siang; banyak hal yang dikerjakan atas kesadaran diri sendiri. Bahkan, mengingat pesan-pesan dari ibu membuat mereka lebih berhati-hati.

      3. Karena memiliki waktu yang terbatas, momen kumpul bersama anak-anak justru lebih berkualitas.

Bagaimanapun, ibu dituntut untuk tegas dan disiplin soal jam kerja. Pekerjaan selayaknya diselesaikan di kantor karena setelahnya adalah tugas ibu untuk memenuhi hak anak-anak. Gunakan waktu untuk menemani mereka mengerjakan PR atau belajar. Pastikan bahwa sedikit waktu selepas jam kantor cukup berkualitas bagi mereka. Jika terpaksa harus kembali menyentuh folder-folder pekerjaan, lakukan setelah anak-anak tidur di malam hari.

      4. Hubunganmu dan pasangan bisa jadi lebih harmonis. Kalian terbiasa berbagi tugas karena sama-sama bekerja.

Saling pengertian antara keduanya menjadikan hubungan yang dijalani justru lebih baik. Merasa punya peran yang sama-sama penting dan tanggung jawab yang sama-sama besar membuat ikatan suami istri lebih kuat. Bukan tidak mungkin jika kondisi keluarga jadi lebih bahagia dan harmonis.

Ibu rumah tangga yang bekerja sering dianggap mengabaikan perannya sebagai orang tua. Alih-alih menemani anak di rumah, ibu justru sibuk dengan rutinitas di kantor. Kadang, hal inilah yang membuat ibu menanggung rasa bersalah. Menganggap bahwa keputusan untuk bekerja membuat anak-anak membenci mereka lantaran merasa diabaikan.

Namun, peran ibu tak bisa diukur dengan seberapa sering seorang ibu ada di samping anak-anaknya. Membimbing dan mengarahkan anak tetap bisa dilakukan selama mampu membagi waktu dan menjaga komunikasi. Bahkan, kemampuan untuk menjalankan dua peran sekaligus adalah bukti bahwa ibu adalah orang tua yang hebat.

Penulis: 
Ibadiah
Sumber: 
Kantor Perwakilan

Artikel

01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi