CENG BENG, HARI PENGHORMATAN LELUHUR

Hari Ceng beng biasanya pergi ke kuburan leluhur dengan membawa hio, bunga, kertas sembahyang, makanan serta minuman. Kalau Orang Jawa ada nyekar, Orang Tionghoa ada Ceng beng. Hari Ceng Beng adalah suatu hari ziarah ke kuburan leluhur, diadakan tiap tahun.

Asap mengepul di sekitar makam sebab banyak orang yang ziarah membakar kertas sembahyangan. Sejak zaman dulu sebenarnya ada 2 jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan, pembakaran Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.

Ada beberapa makam Tionghoa sudah tidak terurus karena ahli waris, anak-anak, cucu sudah enggan mengurusnya. Akibatnya makam ditumbuhi rumput dan tanaman liar yang merambat. Jika sudah tidak lagi membayar iuran, maka tinggal tunggu saja kapan kuburan leluhur akan dibongkar oleh pengelola makam. Tidak tahu tulang belulangnya akan dikemanakan. Ini biasa terjadi di kompleks perkuburan yang sudah penuh sesak dan tidak ada lahan baru.

Asal-usul Ceng beng dikisahkan oleh Bhante Uttamo Mahathera: konon menurut cerita rakyat, asal mula ziarah kubur atau Ceng Beng ini berawal dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M). Zhu Yuan Zhang awalnya berasal dari sebuah keluarga miskin. Ketika dewasa, Zhu Yuan Zhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol).

Setelah berjuang akhirnya ia dan kelompoknya dapat menaklukkan Dinasti Yuan (1271-1368 M); sampai akhirnya Beliau menjadi seorang kaisar. Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuan Zhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya namun kedua orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.

Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, sebagai seorang kaisar, Zhu Yuan Zhang memberi titah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan. Selain itu, diperintahkan juga untuk menaruh kertas-kertas di atas masing-masing makam, sebagai tanda makam telah dibersihkan.

Setelah semua rakyat selesai berziarah, kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam yang belum dibersihkan serta tidak diberi kertas-kertas. Kaisar berasumsi bahwa makam tersebut kemungkinan makam orangtua Beliau. Hal ini kemudian dijadikan tradisi untuk setiap tahunnya.

Beberapa hal yang biasanya dilakukan pada hari ziarah Cengbeng :

1. Membersihkan kuburan, mencabuti rumput liar, mengecat bagian kuburan yang luntur, dan sebagainya.

2. Memperbaiki bagian makam yang pecah dan rusak.

3. Ceng beng menjadi acara berkumpul bersama keluarga besar. Selain itu, keluarga dapat mengingat pada jasa-jasa orang tua atau leluhur.

Sebagai pihak keturunan yang masih hidup dan ada hubungan keluarga dengan leluhur, tidak ada salahnya membersihkan kuburan leluhurnya sendiri, kalaupun enggan untuk berdoa di kuburan, ya tidak usah berdoa, disana hanya membersihkan makam leluhur saja serta bertemu dengan keluarga besar. Itu menunjukkan bahwa keturunannya yang hidup masih ingat kepada leluhurnya.

(Sumber : Dari Berbagai Bahan)

Penulis: 
Ardiansyah
Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi

Artikel

01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi