Sekelumit Sejarah Tiap Tradisi Idul Fitri

Lebaran adalah nama lain yang diberikan kepada hari raya idul fitri, berasal dari tradisi Hindu, yang berarti selesai, usai atau habis. Kata lebaran juga terdapat dalam bahasa jawa Ngoko, yang berarti wis bubar sebagai istilah yang menandakan berakhirnya bulan Ramadhan dan datangnya bulan Syawal.

Sejarah Singkat Tradisi Lebaran

1. THR

Lebaran di nusantara dirayakan dengan berbagai kebiasaan, mulai dari pemberian tunjangan hari raya (THR) hingga Halal Bihalal. THR lahir dari persoalan ekonomi yang melilit di dalam situasi politik yang tidak menentu. Setelah perjuanagan yang dilakukan sejak tahun 1951. THR kini menjadi hak seluruh pekerja. Sejarah Thr itu sendiri sebagai berikut :

  • Tahun 1943, masa pendudukan jepang dikenal istilah hadiah lebaran untuk pegawai negeri sipil (PNS).
  • Tahun 1951, salah satu program kerja cabinet Soekiman adalah THR untuk Pamong Praja.
  • Tahun 1953, serikat buruh menuntut ha katas THR sebesar 1 kali gaji kotor.
  • Tahun 1994, THR menjadi hak buruh perusahaan.

2. Baju Baru

Pada tahun 1596, masyarakat dikesultanan Banten sibuk menyiapkan baju baru yang dipakai pada saat lebaran, hal serupa terjadi diwilayah Yogyakarta sehingga sampai sekarang pun hampir di setiap penduduk Indonesia sibuk menyiapkan baju baru untuk dipakai ketika lebaran. Sementara itu, tradisi menggunakan baju baru ketika hari raya, menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku sejarah Nasional Indonesia, dimulai sejak abad ke 16 di keluarga kerajaan Banteng. Keinginan keluarga kerajaan untuk mengenakan baju baru ketika hari raya itu kemudian ditanggapi oleh para penduduk, yang mayoritas petani, kemudian dengan menjadi tukang jahit dadakan. Banyak orang menilai bahwa baju baru itu sebagai symbol diri “lahir atau kembali fitri (suci)” setelah menjalankan ibadah puasa. Namun symbol, bias saja sekadar tanda tanpa makna, jika kita tidak menghayatinya.

3. Mudik

Mudik dari kata Udik artinya kampong. Mudik dari bahasa jawa Ngoko adalah “Mulih Dilik” yang artinya pulang sebentar, menurut cerita ada sejak jaman majapahit. Namun baru berkembang pada tahun 1970an. mudik yang dilakukan sejak zaman majapahit, meskipun istilah tersebut baru lahir kemudian dan menjadi tren setelah urbanisasi besar-besaran, para perantau majapahit dulu pergi ke daerah-daerah yang telah ditaklukkan. Kemudian mereka akan pulang untuk sementara ke Jawa demi berkumpul bersama keluarga. Mudik kemudian menjadi tradisi dan agenda nasional yang rutin setiap tahunnya.

4. Petasan

Petasan dikebudayaan cina, menjadi alat mengabarkan adanya pesta acara besar dan penanda bersyukur. Tradisi petasan diadopsi dalam perayaan lebaran sejak tahun 1950an. Sementara petasan yang biasanya ramai dibulan-bulan Ramadhan hingga lebaran, dipengaruhi oleh budaya tiongkok. Petasan menjadi alat komunikasi, penyampai kabar adanya pesta, acara besar dan atau syukuran. Begitu pun petasan yang biasa meramaikan malam-malam ramadhan hingga akhir lebaran, sebagai penanda pesta perayaan idul fitri. Oleh karenanya petasan menjadi salah satu ciri akulturasi budaya tiongkok dan islam selain baju koko.

5. Ketupat

Ketupat berasal dari kata Kupat, paraphrase ngaku lepat yang berarti mengaku bersalah. Terbuat dari anyaman janur berbentuk ketupat yang berisi beras menjadi symbol perayaan lebaran dimasa kerajaan demak abad ke – 15. Ketupat adalah makanan yang dipopulerkan oleh sunan kalijaga ini merupakan upaya penyebaran islam melalui kebudayaan agraris beserta mitos yang hidup kala itu. Ketupat ini menjadi makanan khas hari raya idul fitri yang hampir tidak pernah terlewatkan.

 6. Halal Bihalal

Acara terakhir adalah halal bihalal, yang dirintis oleh KGPAA Mangku Negara yang lahir pada tanggal 8 April 1725, yang artinya berkumpul dan saling bermaaf-maafan. Untuk efisiensi waktu, tenaga, dan biaya, pangeran yang dikenal dengan pangeran samber nyawa ini mengumpulkan para punggawa istana utntuk sungkem bersama kepada raja dan permaisuri, namun istilah halal bihalal sendiri baru diperkenalkan pada tahun 1948 oleh K.H. Wahab Chasbullah. Kala itu Soekarno meminta pendapat terkait nama lain penyebutan kumpul untuk silaturahmi, mencari keharmonisan hubungan dengan saling memaafkan kesalahan.

Setiap tradisi memiliki kisah yang berbeda-beda, baik karna pengaruh budaya ataupun social politik yang berlaku.

Penulis: 
Nina
Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi

Artikel

01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi