HARI PERTAMA SEKOLAH DI TAHUN AJARAN BARU

Senin 16 Juli 2018, merupakan siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masuk sekolah hari pertama  di tahun ajaran 2018/2019. Masih dalam suasana lebaran Idul Fitri atau di bulan Syawal, hari pertama masuk juga diikuti dengan kegiatan upacara Bendera serta acara syawalan atau saling bersalaman antara guru dengan murid, diikuti dengan masuk ke kelas masing-masing.

Hari pertama sekolah merupakan momentum baik bagi orang tua atau keluarga untuk dapat menjalin hubungan baik dengan para pendidik di sekolah. keberhasilan penerapan pendidikan karakter terletak pada para guru.

Setelah hari pertama siswa masuk hingga beberapa hari ke depan sekolah terutama SMP, SMA dan SMK akan melakukan pekan atau masa orientasi sekolah (MOS) atau Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Kegiatan PLS harus bersifat mendidik/edukatif dan bebas dari perplonconan serta kekerasan. Para guru dan kepala sekolah agar tidak kembali ke MOS sebelum tahun 2016 yang banyak penyimpangan. PLS benar-benar dikemas secara edukatif, tidak lagi perploncoan. Orangtua juga harus bisa melakukan pengawasan dalam pelaksanaan PLS.

PLS harus sesuai dengan Permendikbud No 19 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) dan Siswa Bru dalam mengadakan acara pengenalan lingkungan sekolah. PLS harus diinisiasi oleh pamong guru dan kepala sekolah. Artinya para senior tidak bisa menginisasi pelaksanaan PLS untuk siswa baru.

Dua tahun lalu Anies Baswedan yang saat itu masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), mengeluarkan imbauan untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2016, Anies meminta kepada pemimpin instansi pemerintah dan swasta memberikan dispensasi kepada pegawai dan karyawan untuk menemani anak-anak mereka di hari pertama sekolah. Imbauan itu cukup fenomenal dan disambut baik para orang tua. Dari sekian Mendikbud yang dimiliki Indonesia, belum pernah ada yang mengeluarkan imbauan seperti itu. Tujuannya sebenarnya sederhana. Di samping sebagai dukungan moral bagi anak memasuki dunia baru, juga agar orang tua bisa mengenali lingkungan belajar anaknya. Dengan mengantar anak pada hari pertama sekolah, minimal orang tua bisa berkenalan atau bertukar nomor telepon dengan walikelas dan guru-guru anaknya.

Apa arti hari pertama masuk sekolah? Sekolah baru, kelas baru, guru dan teman-teman baru, maupun topik baru untuk dipelajari anak. Seperti belantara yang baru akan dijelajahi untuk pertama kalinya, sebagian orangtua masih merasa was-was dengan apa yang akan ditemui anak di hari pertama masuk sekolahnya.

Memang benar, setiap hari pertama masuk sekolah, dalam hal ini, tahun ajaran baru –,selalu ada yang baru dari kegiatan belajar dan mengajar. Yang dimaksudkan bukan semata kegiatan di ruang kelas semata, namun juga bagaimana anak membangun relasi dengan elemen-elemen baru yang ia temui di sekolah

Namun tidak semua anak berani menghadapi hari pertama masuk sekolah. Termasuk anak-anak yang lebih besar. Kecemasan yang berbeda dialami anak yang berbeda, tergantung usia dan pengalaman mereka, baik bersekolah di jenjang sebelumnya maupun berinteraksi di luar rumah (jika anak baru pertama kali sekolah).

Apakah rasa cemas tersebut harus dihilangkan? Tidak, ini adalah perasaan yang wajar dialami saat anak bersiap belajar hal baru di tempat yang baru.

Ibarat memasuki rimba untuk pertama kalinya, anak akan merasa cemas, sekaligus tertantang. Dalam konteks hari pertama sekolah, anak tertantang untuk masuk, mengenal orang-orang baru, menjalin persahabatan, dan menyiapkan diri untuk belajar banyak hal. Dengan banyak manfaat positif yang bisa dialami anak dengan memulai hari pertama bersekolah, Ayah Ibu sebagai orangtua dapat mendukung anak agar tidak takut melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah.

Tugas pertama orangtua adalah meyakinkan anak bahwa hari pertama masuk sekolah bisa menjadi petualangan baru baginya. Ayah Ibu bisa mengajak anak mengingat pengalamannya dahulu saat pertama kali masuk sekolah. Jika anak belum pernah bersekolah, sempatkan untuk mengajak anak untuk mengintip suasana sekolah di usia anak yang dekat dengan rumah Ayah Ibu.

Seorang petualang yang sigap, tentu memiliki peralatan dan bekal yang memadai untuk memulai petualangannya. Sayangnya, dalam konteks hari pertama bersekolah, beberapa orangtua lebih sering merasa cemas apabila anak kelupaan membawa barang ini-dan-itu, sehingga memilih untuk menyiapkan peralatan sekolah anaknya.

Terutama untuk anak-anak yang lebih muda, akan lebih menyenangkan apabila anak diajak untuk menyiapkan peralatan bersekolah tersebut bersama Ayah Ibu. Ajak anak mengenal apa saja hal-hal yang diperlukan untuk ‘berpetualang’ di sekolah, dan seiring waktu, anak dapat pula belajar untuk merawat, menjaga, serta berbagi ‘peralatan berpetualangnya’ dengan sesama petualang yang membutuhkan.

Saat kedua hal di atas telah diceritakan dan disiapkan, jangan lupa untuk menyambut dan mengobrol dengan anak sekembalinya ia ke rumah. Hari pertama bersekolah bisa menjadi semakin mencemaskan atau menantang, tergantung kesan pertama yang ditangkap oleh anak.

Pertama kali, tanyakan keseruan yang didapat di hari pertama anak bersekolah, lalu dapat dilanjutkan dengan mendiskusikan hal-hal yang mungkin kurang menyenangkan baginya. Selain agar Ayah Ibu memahami situasi yang dialami anak di kelas barunya, mendengarkan cerita anak memberi kita kesempatan untuk memberi dukungan yang tepat – karena kita mengerti apa tantangan yang sedang dan akan diselesaikan anak di sekolah nantinya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengingatkan kembali pentingnya sinergi tripusat pendidikan, yaitu sekolah, orangtua, dan lingkungan rumah, dalam gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan implementasi dari kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang 8 jam belajar dalam sehari, selama lima hari sekolah. PPK ini akan diterapkan di sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Esensi PPK ini akan berdasarkan pada aktualisasi nilai-nilai dalam Pancasila. PPK akan diintegrasikan dengan pelaksanaan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di sekolah. Kegiatan intrakurikuler merupakan mata pelajaran umum yang biasa diterima siswa. Kegiatan kokurikuler meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, atau bentuk kegiatan lain untuk penguatan karakter siswa.

Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler misalnya kegiatan karya ilmiah, latihan olah bakat atau minat, dan keagamaan.

Dalam pelaksanaan PPK  diserahkan kepada guru di sekolah, dan disesuaikan dengan kearifan lokal tempat sekolah berada, dengan diberikan kebebasan kreativitas sesuai dengan kondisi dan budaya sekolah tersebut dan juga kemampuan atau sumber daya sekolah tersebut

Orangtua atau keluarga adalah pendidik pertama dan utama, hendaknya sekolah, rumah dan masyarakat bersinergi menciptakan ekosistem pendidikan yang dapat mendukung gerakan pendidikan karakter. Para siswa diharapkan agar tidak hanya mengejar unsur akademis saja, namun juga dapat menggali dan mengoptimalkan minat dan bakat. Sesuai dengan prinsip gerakan PPK, siswa tidak hanya didorong untuk mengolah pikir saja, namun juga mengolah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), serta olah raga (kinestetik).

Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016, peran serta masyarakat dalam upaya memajukan pendidikan semakin terbuka luas. Masyarakat dapat berkolaborasi dengan komite sekolah dapat mendorong perbaikan di tingkat satuan pendidikan.

Dengan manajemen berbasis sekolah, diharapkan sekolah berperan sebagai sentral dan mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar di sekitarnya.

Di sekolah semua orang adalah pendidik. Guru adalah pendidik, orang tua adalah pendidik, bahkan anak-anak yang posisi kasat matanya adalah objek pendidikan, sesungguhnya juga adalah pendidik. Semua adalah komponen penting untuk mencapai buah pengetahuan.

Penulis: 
Nurul Ihsan
Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi

Artikel

01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi