SATU INDONESIA DALAM KEBERAGAMAN

Imlek atau disebut juga dengan Sinchia, Kong Hian atau sebutan lainnya merupakan Tahun Baru Cina atau Lunar New Year yang dirayakan oleh etnis Cina atau Tionghoa. Di Indonesia dengan sebutan Nusantara yang Bhinneka seperti selalau memberi alasan untuk menikmati bermacam perayaaan dan kita bergembira karenanya. Termasuk salah satunya dalam perayaan Tahun Baru Cina.

Setelah Era Gusdur, perayaan Imlek menjadi perayaan budaya yang lebih leluasa dinikmati semua orang di Indonesia. Kantong-Kantong Pecinan diberbagai kota didatangi untuk melihat kemeriahan suku Tonghoa merayakan pergantian Tahun dalam kalender meraka. Semua berbaur dan saling menghargai.

Indonesia tidak mungkin menjadi homogen, justru keberagaman menjadi cirinya sejak negeri ini ada. Akan sulit jika kita berfikir untuk menyeragamkan apa pun di Indonesia.  Menilik dari sejararah etnis Tionghoa sudah lama menjadi bagian di Indonesia.

Menyadari dan menghargai perbedaan pada akhirnya akan membuka dan mencairkan ruang-ruanga dialog antar kelompok, tanpa harus meninggalkan identitas masing-masing. Agar dialog dapat berjalan, seseorang sebaiknya membekali diri dengan kemampuan komunikasi lintas budaya. Persoalannnya, kemampuan ini tidak terbentuk secara secara alamiah, melainkan harus adilatih agar seseorang bisa menjalin komunikasi yang setara tanpa menyingung atau merendahkan satu sama lain. Caranya antara lain “

  1. Seseorang sebaiknya memepelajari dan memahami beberapa bahasa sederhana dari kelompok etnis lain misal cara mengucapkan salam atau menanyakan kabar.
  2. Mempelajari budaya kelompok lain dengan cara dicari di media sosial.. Ini merupakan salah satu cara agar seseorang bisa mengerti perseplektif budaya lain, bentuk toleransi yang dilakuakan secara katif dan salah satu wujud upaya pembauran paling sederhana.

Segaduh apapun isu yang bersedar etnis Tionghoa tetap merupakan bagain dari bangsaa Indonesia. Seperti etnis lainnya, etnis Tionghoa juga memiliki keunikan yang justru bisa memperkuat posisi Indonesia dimata dunia diberbagai bidang. Ketika keberagaman bisa melebur jadi satu identitas kultural untuk apa lagi meributkan perbedaan. Ini saatnya kita kembali lantang mengucapkan bhinneka Tunggal Ika, bukan mempertanyakan Bhinneka tinggal berapa ? (Bahan : Dari berbagai sumber)

Penulis: 
Nina
Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi

Artikel

01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi