MUSIM PANCAROBA DI INDONESIA

Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia, diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, terdapat banyak selat dan teluk, menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan iklim/cuaca.

Fenomena yang mempengaruhi iklim di Indonesia :

  1. El Nino dan La Nina
  2. Dipole Mode
  3. Sirkulasi Monsun Asia - Australia
  4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ)
  5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Indonesia

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yunus Subagyo Swarinoto meminta masyarakat waspada bencana. Berdasarkan BMKG, periode November 2016 sampai Februari 2017 bakal menjadi puncak musim hujan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihaknya telah menyiapkan anggaran antisipasi tanggap bencana sebesar Rp 150 miliar yang siap pakai. Untuk tahun 2017 diperkirakan akan terjadi peningkatan banjir dan longsor, dimana puncaknya terjadi di bulan Januari 2017 ini. Untuk kawasan Jabodetabek sendiri, bencana diperkirakan akan terjadi di daerah yang berada di bantaran kali, seperti Kali Angke, Ciliwung, dan Pesanggrahan. Kawasan Jabodetabek belum mampu mengatasi banjir karena sarana dan prasarananya tidak memadai. Selain faktor kali meluap, banjir bakal terjadi di bagian utara karena adanya pasang air laut.

Besarnya pengaruh lokal dan tingginya pemanasan mengakibatkan periode saat ini memicu peningkatan intensitas hujan badai yang memungkinkan terjadi petir dan angin kencang. Sehingga masyarakat diimbau berhati-hati ketika  eraktifitas di luar rumah pada sore hari. Selain itu khusus untuk daerah perkotaan dan dataran tinggi agar mengantisipasi hujan lebat dengan durasi singkat yang dapat menyebabkan genangan bahkan banjir bandang.

Semakin meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah Indonesia seperti banjir bandang di Bandung dan Aceh, tanah longsor di Garut, serta angin kencang di Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh kondisi atmosfer yang sangat labil di wilayah Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh beragam fenomena, dari daerah pertemuan angin hingga dipicu oleh skala atmosfer skala lokal maupun skala yang lebih luas.

Hujan dengan intensitas tinggi diprediksi masih akan terus berlangsung hingga bulan Maret 2017. Banjir dan longsor, juga menjadi ancaman. Kondisi tersebut diperparah dengan terjadinya La Nina. Penyebab lain hujan yang terjadi saat ini, terang Tri, adalah adanya anomali pertumbuhan awan di dunia.  Awan-awan berkumpul di Indonesia karena suhu muka laut yang bervariasi. Ada gelombang atmosfer ekuator yang terpantau muncul membawa gugusan awan besar.

Atas kondisi tersebut, Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) merekomendasikan kepada Pemerintah agar segera membentuk konsorsium nasional yang bertugas mendesain sistem peringatan dini bencana hidrometeorologis atau bencana yang berhubungan dengan iklim. Warga juga diminta tidak menyebarkan informasi yang salah (hoax) karena bisa menurunkan kepercayaan publik pada kebenaran informasi jika sewaktu-waktu benar-benar terjadi bencana.

Pemda-pemda harus saling bekerja sama, penanganan banjir dan longsor tidak bisa dibatasi sekat instansi atau daerah per daerah. Langkah lain yang harus ditempuh oleh Pemerintah Pusat, adalah mendorong gerakan masyarakat untuk menanggulangi banjir dan longsor seperti melakukan gerakan restorasi sungai dan danau serta terus dilakukan berbagai upaya pemanenan air hujan. Salah satu konsep yang ditawarkan IABI adalah menampung air hujan. Konsep ini telah banyak dilakukan di Benua Australia. 68 persen desa-desa dan 45 persen kota di Australia, telah menggunakan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Konsepnya air hujan ditampung dalam sebuah tempat, resapkan, alirkan dan pelihara air hujan. Gerakan restorasi pengelolaan sungai serta restorasi drainase perlu lebih di masyarakatkan. Sekalipun curah hujan tinggi, masyarakat akan lebih siap jika memiliki  frastruktur permukaan yang baik. IABI mendesak kepada media massa untuk ikut memberikan panduan kepada masyarakat terkait situasi kebencanaan. Media massa, terutama media elektronik, diminta berpartisipasi aktif menyiarkan sistem peringatan dini sampai pada detik-detik terjadinya hujan ekstrem sebagaimana media elektronik juga menyiarkan detik-detik peringatan gempa berpotensi tsunami.

Penulis: 
Nina
Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi

Artikel

01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi
01/12/2018 | Badan Penghubung Provinsi