GUBERNUR MENGHADIRI ACARA PERINGATAN HARI PERKEBUNAN KE – 61 DI GEDUNG SATE, BANDUNG

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung menghadiri acara Peringatan Hari Perkebunan ke-61 pada hari Senin tanggal 10 Desember 2018 bertempat di Gedung Sate Bandung , Jawa Barat.

Jika kita menengok sejarah perkebunan di Nusantara, maka perjalanannya sangatlah panjang. Pengusahaan perkebunan telah berlangsung sangat lama, sejak era sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan jauh sebelum kolonialisasi menguasai bumi Nusantara.

Namun sejak masa kolonialisasi terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya perkebunan Indonesia. Setidaknya ada tidak penting yang mempengaruhi usaha perkebunan di Bumi Pertiwi yakni, masa berkuasanya perusahaan Belanda VOC, masa Tanam Paksa dan masa diberlakukannya Agrarisch Wet tahun 1870.

Sejarah kelam perjalanan perkebunan masa kolonialis menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Hingga kemudian Bangsa Indonesia memasuki era nasionalisasi perusahaan perkebunan yang kemudian terbentuk PT. Perkebunan (PTP). Berdirinya PTP dilandasi SK Penguasa Militer/Menhankam No. 1063/PM.T/1957 tanggal 9 Desember 1957. Lalu diikuti SK Menteri Pertanian No.229/UM/57 tanggal 10 Desember 1957.

Saat itulah Pemerintah Indonesia mengambil alih sekitar 500 perusahaan perkebunan milik Belanda. Untuk melegitimasi pengambilalihan ini, pemerintah mengeluarkan UU No. 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi. Tanggal 10 Desember 1957 akhirnya ditetapkan sebagai Hari Perkebunan.

Pada tahun ini peringatan Hari Perkebunan menjadi momen penting seluruh stakeholder perkebunan untuk bersinergi dan akselerasi untuk kejayaan perkebunan. Bukan hanya fokus pada kegiatan hulu untuk meningkatkan produktivitas, tapi juga di hilir untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing.

Catatan Ditjen Perkebunan, tahun 2016 nilai ekspor perkebunan sebesar 25,5 miliar dollar AS, tahun 2017 naik menjadi 31,8 miliar dollar AS atau meningkat 26,5%. Salah satu komoditas penyumbang devisa terbesar adalah kelapa sawit.

“Kitaharus bersinergi dengan pihak luar untuk mempercepat kejayaan perkebunan nasional. Di hulu sampai ke hilir, pemerintah harus bersinergi dengan poktan, lembaga keuangan, pemerintah daerah, asosiasi dan stakeholder lainnya,

Pengembangan perkebunan di hulu bisa dilakukan dengan pemilihan bibit unggul, pola tanam yang baik, sampai antisipasi terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) agar produksi dan produktivitas meningkat. Penanganan di hilir seperti pasca panen juga tak bisa dikesampingkan, karena petani atau pekebun akan mendapat nilai tambah.

Peningkatan added value (nilai tambah) pada komoditas perkebunan, sangat penting bagi petani, karena petani bisa mendapat insentif harga. Karena itu, komoditas perkebunan di hilir terus didorong. Bahkan makin ke hilir nilai tambahnya harus terus didorong.

Karena itu pada peringatan Hari Perkebunan (Harbun) ke-61 yang berlangsung pada 8-10 Desember 2018 di Gedung Sate, Bandung, Jabar akan mendapat dukungan sejumlah stakeholder dan Pemprov Jawa Barat. Bahkan, sejumlah asosiasi perkebunan antusias mensukseskan acara tahunan ini. 

“Perkebunan saat ini sudah besar. Terbukti komoditas perkebunan mampu menjadi sumber devisa negara,” kata Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman.

 

Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi
Penulis: 
Muhamad Ali
Fotografer: 
Hendrik Timora Sakti
Editor: 
Prima Indrasari