Gubernur Kepulauan Bangka Belitung menghadiri acara temu usaha perusahaan dan industri pengguna lada di Kementerian Perdagangan

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan mewakili Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag menerima Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dalam kerangka Temu Usaha Perusahaan dan Industri Pengguna Lada di Kantor Kemendag. Pertemuan turut dihadiri oleh Staf Ahli Bidang Pengamanan Pasar Kemendag, unit dan Kementerian/Lembaga terkait, Asosiasi, serta pengusaha dan industri pengguna lada. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berencana akan mengembangkan dan memperluas jaringan pemasaran Lada Putih Bangka Belitung yang menggunakan system resi gudang yang ada di Bangka Belitung. Kegiatan ini memfasilitasi pertemuan antara perusahaan dan industri pengguna lada dengan Koperasi Lada Babel, agar dapat langsung membeli lada dari Bangka Belitung dengan kualitas dan harga yang terjamin.

“Di Tahun 2018 ini Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah ikut membantu petani untuk menyediakan bibit baru, bibit yang sehat, bibit yang direkomendasikan dan bibit unggul itu kurang lebih 5,2 juta, ini hamper sama dengan kurang lebih sekitar 3.000 hektar atau tepat itu akan dibantu 6 juta itu hampir sama 3.300 hektar itu yang dimaksud kita, karena selama ini kita belum yakin benar bahwa mereka menggunakan menanam dengan bibit yang bebas penyakit/bibit unggul mangkannya kita bantu membuat lahan termasuk saproni-saproni lainnya, dan sebenarnya sekarang kita sudah mulai menyarankan kepada para petani kita untuk menanam lada dengan jujuk hidup dengan raja hidup seperti di Vietnam bias mencapai tinggi 13 meter s/d 19 meter dan ini harus kita gunakan karena Vietnam sekarang sudah menghasilkan per hektar itu 2 ton dan kita hanya 400 stok dan sangat disangkan. Nah, bagaimana dengan orang investasi? Kami sangat gembira sekali selama sudah ketersediaan lahannya karena lahan kita ini terbatas. Saya lebih cenderung mengedepankan petani, kalaupun ada ijin itu jangan keluar semua, misalnya 50 hektar, 40 hektar, karena Pulau Bangka Belitung ini bukan Pulau yang besar-besar sekali. Jadi saya lebih suka mereka menjadi Bapak angkat ikut didalam perkebunan pertanian gausah yang luas-luas, karena menanam lada itu tak perlu luas dan butuh teknologi yang betul-betul siap, seperti misalnya dalam suasana musim panas dan lain sebagainya, dan teknologi seperti ini mulai kita lakukan kepada para petani kita. Ada pembukaan perkebunan baru, yang pasti lebih banyak pembukaan perkebunan baru yaitu mungkin kurang lebih sekitar 60% nya buka baru, 40% nya menjadi yang mati karena mereka dulu banyak berkebun tidak nurut. Permasalahan kita sekarang bagaimana kita mempertahankan harga agar petani kita itu terberdaya jangan seperti sekarang kalau panen harga turun, kalau tidak panen harga naik seakan-akan itu mempermainkan petani, kasihan petani. Saya minta kepada kita semua ayo kita bersama-sama menghitung app nya berapa sih lada ini? Kok kita kalau misalnya harga turun kita nafsu gerebeg jadi murah, di Vietnam mau harga naik atau turun masih tetap produksi dan tidak saying. Jadi cara berfikir petani kita juga harus kita rubah mainsetnya. Kita Pemerintah membantu bibit dan jujuk hidup, pembukaan dan lain sebagainya itu dilakukan petani. Selain juga pupuk, diombinasikan dengan peternak sapi karena setiap desa kita akan kembangka ternak sapi, kenapa? Karena 90% penggunaan pupuk kompos itu membuat lada kita menjadi bagus”, ujar Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Sumber: 
Badan Penghubung Provinsi
Penulis: 
Muhamad Ali
Fotografer: 
Hendrik Timora Sakti
Editor: 
Prima Indrasari